Ibadah Persekutuan Besar
19 Maret 2022
Hari, Tanggal : Sabtu, 19 Maret 2022
Waktu : 16.00 WITA
Tempat : Via Zoom Meeting
Pembicara : Pdt. Robert Sokoy, M.Th
Tema : Eksposisi Kitab Galatia
Pelayan :
MC : Gilbert P Salmon (KH 21)
Pendamping MC : Elein Datu S (PDU 18)
Gitaris : - Matthew Purba (PDU 19)
- Abraham Sakka (PDU 19)
Cajonist : Deky Palulun (PDU 20)
Singers : - Tri Meilyati (KH 21)
- Frinth Azarya K (KH 21)
- Thiessya Angelin Tandi (PDU 21)
Pendamping Pemusik : Aldy Christian V (PDU 18)
Pemerhati : - Anggita Arung (PDU21)
Thysia Chennike Sine (PDU21)
Operator : Tri Panto (PDU21)
EKSPOSISI KITAB GALATIA
Kitab Galatia merupakan salah satu karya Paulus yang ditulis sekitar abad ke-50 setelah zaman Yesus memberitakan injil. Berdasarkan tahun penulisannya, kitab ini adalah kitab yang pertama kali ditulis pada situasi dimana saat itu gereja-gereja sedang berkembang. Pada masa itu orang Israel memegang teguh hukum taurat, tetapi dengan tersebarnya injil, terjadi pertentangan antara injil dan hukum taurat. Saat itu, timbul sebuah perdebatan di mana seorang laki-laki diharuskan untuk bersunat dan Paulus menentang hal itu. Paulus kemudian memperkenalkan dirinya sebagai seorang rasul dan menegaskan bahwa kita tidak lagi berada di bawah hukum taurat melainkan kita sudah dibebaskan dan kita hidup di dalam iman kita dan merdeka di dalam Kristus.
Latar belakang penulisan kitab ini adalah munculnya orang-orang yang membawa injil berbeda dengan injil yang disampaikan rasul Paulus dan rasul lainnya. Ajaran mengenai injil yang berbeda ini diberitakan dengan tujuan untuk mengacaukan persekutuan jemaat, pemikiran orang percaya, dan memutarbalikkan ajaran injil yang dipercayai oleh jemaat pada saat itu. Terdapat dua kategori orang percaya pada masa itu, yaitu sebagian Yahudi dan sebagian lainnya adalah orang-orang berlatar belakang Yunani serta kaum proselit (orang yang menganut agama Yahudi tetapi bukan orang Yahudi).
Rasul Paulus adalah orang yang dikenal sebagai ahli taurat. Jika kita memperhatikan secara saksama, argumen yang diberikan rasul paulus kepada pembaca pertamanya melalui kitab galatia ini, dapat kita ketahui siapa mayoritas pembacanya saat itu. Kiblat penulisan kitab galatia adalah pembaca yang merupakan mayoritas orang percaya berlatar belakang agama yahudi.
Perlu kita perhatikan bahwa “Kita harus melakukan sesuatu agar kita dapat diterima oleh Tuhan”. Konteks “sesuatu” yang dimaksudkan di sini adalah “IBADAH”. Surat Galatia ini ditulis untuk melawan legalisme. Berdoa agar diberkati oleh Tuhan “itu salah”. Kita diterima, dikasihi, dan diberkati Tuhan, bukan karena sesuatu yang kita lakukan, tapi karena apa yang Yesus lakukan kepada kita. Banyak orang tidak bisa datang di hadapan Tuhan atau datang ke gereja karena kita berkata kepada mereka “Anda harus melakukan sesuatu untuk diterima Tuhan”. Namun, ini semua salah karena kita diterima oleh Bapa di Sorga karena apa yang Yesus lakukan.
Tidak seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum taurat. Tidak ada orang yang suci karena Tuhan Allah adalah Allah yang sempurna. Jika kita ingin diterima dan dikasihi, maka perbuatan dan ibadah kita haruslah sempurna, alasannya karena Tuhan itu Sempurna. Tidak ada seorang pun dapat diselamatkan karena perbuatannya.
Zaman ini, banyak orang susah selamat karena kita banyak membuat legalisme. Seharusnya, setiap hal yang kita lakukan berorientasi pada hukum yang pertama “kasihilah Tuhan AllahMu”. Jadi, kita melakukan ibadah karena kasih dan cinta kita kepada Tuhan, bukan karena ingin hidup benar sesuai legalisme yang diciptakan manusia. Orang yang jatuh cinta, akan memberikan waktu, tenaga, dan usaha karena cintanya. Hal yang sama juga yang harus kita lakukan kepada Tuhan yang telah mengasihi kita terlebih dahulu.
Gereja zaman ini telah melakukan banyak kesalahan dan penyimpangan. Di dalam Pasal 5, rasul Paulus menulis tentang kemerdekaan Kristus. Orang yang percaya legalisme adalah orang yang sudah di dalam Yesus tapi masih menanggung bebannya sendiri. Memiliki kemerdekaan di dalam Kristus berarti kita tidak menjadi hamba hukum taurat lagi. Maka, janganlah hidup di dalam daging dan dikendalikan oleh legalisme. Hiduplah di dalam roh, maka kita akan merdeka di dalam Kristus.



Comments